Awal Kisah: Burnout yang Berujung pada Hidayah
Bagi Pak Fadli (45), hidup beberapa tahun terakhir terasa seperti lomba maraton tanpa garis finish. Tanggung jawab kerja yang berat, anak-anak yang mulai remaja, dan tekanan hidup di kota besar membuatnya kehilangan arah. “Aku sukses secara duniawi, tapi kenapa hati masih kosong?” begitu pikirnya hampir setiap malam.
Sampai suatu hari, istrinya, Bu Dina (42), mengajaknya berbincang serius. “Mas, gimana kalau kita ikut Umroh Plus Aqsho? Aku pengin kita nggak cuma liburan, tapi benar-benar recharge iman,” katanya lembut.
Kalimat itu seperti mengetuk hatinya. Akhirnya, mereka memutuskan berangkat bersama Pusat Umroh, program Umroh Plus Aqsho yang menggabungkan tiga destinasi spiritual: Makkah, Madinah, dan Palestina.
Makkah: Reset Hati di Depan Ka’bah
Langkah pertama mereka dimulai di Makkah. Saat pertama kali melihat Ka’bah, Pak Fadli tak kuasa menahan air mata. Semua kesibukan, ambisi, dan kegelisahan seolah runtuh di depan rumah Allah سبحانه وتعالى.
“Mas, lihat… tempat ini bikin semua ego kita hancur,” bisik Bu Dina sambil menatap suaminya yang berdoa lama.
“Iya, Din. Rasanya aku kayak baru hidup lagi,” jawabnya pelan.
Selama di Makkah, mereka melakukan thawaf, sa’i, dan tahajud bersama. Bukan sekadar ritual, tapi proses penyembuhan batin. Dalam setiap langkah, ada rasa lega. Dalam setiap doa, ada penyerahan total.
“Umroh ini bukan sekadar perjalanan ibadah, tapi perjalanan untuk mengenali diri sendiri,” tulis Pak Fadli di buku kecilnya.
Madinah: Belajar Tenang dari Kota Penuh Cinta
Di Madinah, suasana berubah lembut. Kota Nabi ﷺ ini memberi ketenangan yang sulit dijelaskan. Setelah subuh di Masjid Nabawi, mereka duduk berdua di pelataran. “Aku ngerasa disayang banget di kota ini,” kata Bu Dina pelan.
Pak Fadli mengangguk. “Nggak heran, Din. Rasulullah ﷺ itu lembut sekali pada umatnya. Mungkin ini cara Allah سبحانه وتعالى menunjukkan kasih-Nya pada kita.”
Mereka berziarah ke Raudhah, shalat dengan khusyuk, dan mendengarkan kisah perjuangan Rasulullah ﷺ. Setiap detik di Madinah terasa seperti terapi bagi hati yang penat. Bahkan, saat meninggalkan kota itu, Bu Dina menitikkan air mata. “Rasanya kayak ninggalin rumah sendiri,” ujarnya.
Jordan: Menapaki Jejak Nabi di Tengah Gurun
Perjalanan berlanjut ke Yordania. Bus rombongan Pusat Umroh melewati lembah dan bukit yang terbentang sejauh mata memandang. Di situlah mereka mulai menyadari, perjalanan ini bukan sekadar ziarah — tapi juga refleksi hidup.
Mereka mengunjungi Petra, kota batu merah yang megah. “Bayangin, Din, ini peninggalan ribuan tahun lalu. Tapi sekarang cuma jadi sejarah,” ucap Pak Fadli.
Bu Dina menatap suaminya dan tersenyum. “Sama kayak hidup kita, Mas. Kalau nggak diisi dengan kebaikan, nanti cuma jadi kenangan kosong.”
Kalimat itu menampar lembut. Di tengah hembusan angin gurun, keduanya terdiam. Petra bukan sekadar destinasi wisata — tapi pengingat betapa kecilnya manusia di hadapan waktu dan kuasa Allah سبحانه وتعالى.
Palestina: Air Mata di Masjidil Aqsho
Ketika bus melewati perbatasan menuju Yerusalem, suasana rombongan mendadak hening. Dari kejauhan, kubah emas Dome of the Rock tampak memantulkan cahaya sore yang indah. Bu Dina langsung meneteskan air mata. “Mas, akhirnya kita sampai juga di tanah para Nabi,” katanya dengan suara bergetar.
Mereka melangkah ke kompleks Masjidil Aqsho. Setiap ubin yang dipijak terasa sakral. Saat shalat berjamaah, Pak Fadli merasakan kedamaian yang belum pernah ia rasakan seumur hidup. Dalam sujudnya, ia berbisik lirih,
“Ya Allah, terima kasih sudah bawa aku sejauh ini. Bukan cuma ke tempat suci, tapi juga ke titik di mana aku sadar arti hidup sesungguhnya.”
Sementara Bu Dina berdoa agar anak-anak mereka kelak bisa datang ke tempat ini juga, menyambung estafet doa dan iman dari kedua orangtuanya.
Napak Tilas di Kota Para Nabi
Keesokan harinya, rombongan mengunjungi Hebron, tempat dimakamkannya Nabi Ibrahim عليه السلام. Di sana, keduanya terdiam lama di depan maqam. “Mas, dari sini aku belajar bahwa iman itu butuh pengorbanan,” ucap Bu Dina.
Kemudian perjalanan berlanjut ke Betlehem, tempat kelahiran Nabi Isa عليه السلام. Pak Fadli menatap bukit-bukit batu yang sunyi. “Aku merasa kecil sekali, Din. Para Nabi hidup di tanah ini, penuh ujian tapi tetap sabar. Kita sering mengeluh hanya karena hal kecil,” katanya lirih.
Mereka juga sempat berbagi sedekah untuk warga lokal Palestina, terutama anak-anak yang belajar di sekolah Islam. Senyum polos anak-anak itu menjadi hadiah paling indah dari perjalanan mereka.
Refleksi di Bawah Kubah Aqsho
Malam terakhir di Yerusalem menjadi malam refleksi. Dari balkon hotel, keduanya memandang kubah Masjidil Aqsho yang bercahaya indah di tengah langit hitam.
“Mas, aku nggak mau perjalanan ini cuma jadi kenangan. Aku pengin perubahan,” ucap Bu Dina.
“Aku juga, Din. Setelah ini, aku mau hidup lebih sederhana, lebih banyak bersyukur, lebih dekat sama Allah سبحانه وتعالى,” jawab Pak Fadli tulus.
Di bawah cahaya bulan, mereka saling menggenggam tangan. Tak ada lagi jarak di hati, tak ada lagi kegelisahan. Hanya rasa tenang dan syukur yang mendalam.
Kembali ke Indonesia: Versi Diri yang Baru
Begitu pesawat mendarat di Tanah Air, Pak Fadli merasakan sesuatu yang berbeda. Ia tak lagi merasa kosong. “Dulu aku pikir healing itu jalan-jalan ke tempat mewah. Ternyata, healing sejati itu saat kita dekat dengan Allah سبحانه وتعالى,” katanya sambil tersenyum pada istrinya.
Perjalanan Umroh Plus Aqsho ini mengubah segalanya. Mereka tak hanya pulang dengan oleh-oleh dan foto indah, tapi dengan hati yang lebih lembut, jiwa yang lebih kuat, dan cinta yang lebih besar — kepada Allah سبحانه وتعالى, Rasulullah ﷺ, dan satu sama lain.
Lewat Pusat Umroh, mereka sadar: perjalanan terbaik bukan tentang sejauh apa kamu melangkah, tapi seberapa dalam kamu kembali menemukan makna hidupmu. 🌙
