Bagi Aisha, seorang fresh graduate yang baru saja memulai magang di sebuah startup teknologi, Desember seharusnya menjadi bulan kemenangan. Ia berhasil melewati kesibukan aktivitas sekolah yang intensif skripsi, ujian akhir, dan proyek kolaborasi. Namun, seolah ada kontrak tak tertulis, kemenangan itu langsung digantikan oleh kesibukan pekerjaan kantor yang baru: tekanan untuk selalu produktif dan mengejar ketertinggalan di dunia profesional yang serba cepat.
Aisha melihat libur panjang akhir tahun bukan sebagai waktu istirahat, melainkan sebagai kompetisi tak terlihat. Teman-temannya sibuk mengunggah daftar buku bisnis yang akan mereka habiskan, kursus coding yang akan mereka selesaikan, atau proyek sampingan yang akan mereka luncurkan. Rasa bersalah mulai menghantuinya. Apakah ia gagal jika menghabiskan liburan hanya untuk menonton film atau tidur siang? Ia merasa wajib menggunakan setiap detik jeda untuk self-improvement, seolah istirahat adalah kemewahan yang tidak pantas didapatkan.
Ia mencoba mengikuti arus. Laptopnya selalu menyala. Di pagi hari, ia memaksa diri untuk menyelesaikan kursus pemasaran digital. Siang hari, ia membaca buku tentang kepemimpinan. Malam hari, ia menulis rencana ambisius untuk tahun depan. Namun, alih-alih merasa bersemangat, ia justru merasa semakin terkuras. Ia bukan sedang beristirahat; ia hanya mengganti jenis pekerjaannya. Tekanan untuk terlihat produktif di media sosial lebih berat daripada tekanan deadline yang sebenarnya.
Suatu malam, setelah gagal memahami bab ketiga dari sebuah buku finansial yang rumit, Aisha menangis frustrasi. Ia menyadari bahwa tubuhnya ada di rumah, tetapi pikirannya masih terjebak di mode kerja. Ia telah lupa bahwa momen memanfaatkan liburan akhir tahun yang paling efektif adalah yang memulihkan jiwanya, bukan yang menambah daftar pencapaiannya.
Dengan dukungan mentornya, Aisha menyusun ulang definisi “produktif” menjadi “restoratif.” Ia memutuskan untuk melakukan tiga kegiatan yang bisa mengisi akhir tahun dengan penuh semangat, tetapi tanpa tujuan komersial atau validasi eksternal.
- Keterampilan Analog yang Tidak Berguna (Non-Utilitaian Skill): Aisha membeli seperangkat cat air dan mulai melukis. Ia tidak melukis untuk pamer di Instagram atau menjual karyanya. Ia melukis dengan tujuan tunggal: menikmati pergerakan kuas dan warna. Aktivitas ini memaksanya untuk melepaskan pikiran analitis dan menemukan kegembiraan dalam proses tanpa mengharapkan hasil yang sempurna. Ini adalah bentuk relaksasi yang paling murni.
- Membagi Waktu untuk Kehangatan Komunitas: Aisha mendedikasikan beberapa sore liburan untuk mengunjungi rumah panti jompo di dekat rumahnya. Ia bukan datang sebagai relawan ahli, melainkan hanya sebagai pendengar. Mendengarkan cerita-cerita dari generasi yang lebih tua, jauh dari hiruk pikuk teknologi dan hustle, memberinya perspektif yang menenangkan. Ia menemukan makna yang lebih besar dalam koneksi sederhana daripada dalam pencapaian karier yang besar.
- Membuat Vision Board untuk Jiwa, Bukan Karier: Daripada menulis resolusi karier yang panjang, Aisha membuat papan visual yang berfokus pada keseimbangan. Ia menempelkan gambar keheningan, waktu berkualitas bersama keluarga, dan gambar-gambar alam. Proses ini membantu mendefinisikan kembali apa arti sukses baginya di tahun mendatang, yang kini berpusat pada kesehatan mental, bukan hanya kekayaan finansial.
Di tengah upayanya menyeimbangkan diri, ia mendapat cerita dari ayahnya. Ayahnya, yang selalu tampak tenang meski memimpin perusahaan besar, bercerita tentang rencana ibadah Umrah di bulan Desember yang sudah ia siapkan jauh-jauh hari. Ayahnya menjelaskan, “Nak, terkadang, investasi terbaik bukanlah saham atau properti, tetapi waktu yang kamu dedikasikan untuk Tuhan. Di sana, kamu tidak bisa multitasking.”
Umrah, bagi ayahnya, adalah puncak dari recharge spiritual sebuah cara total untuk meninggalkan identitas duniawi di belakang. Perjalanan itu memberikan kelegaan karena tidak ada yang perlu dikejar, kecuali keridhaan-Nya. Terinspirasi oleh niat suci ini, Aisha mulai mencari informasi untuk rencana masa depan. Mencari rincian mengenai paket umroh desember 2026 memberinya rasa harapan, bahwa ia juga akan memiliki kesempatan untuk melakukan pemulihan jiwa yang sejati, jauh dari tekanan produktivitas.
Ketika Januari tiba, Aisha tidak kembali dengan daftar sertifikat baru, tetapi dengan kedamaian yang mendalam. Ia telah menanggalkan rasa bersalahnya. Ia belajar bahwa jeda yang sesungguhnya bukanlah tentang mengisi waktu dengan kegiatan “bermanfaat,” tetapi tentang mengosongkan diri dari tuntutan. Libur panjang akhir tahun telah mengubahnya menjadi pribadi yang lebih jujur pada diri sendiri, siap menghadapi tantangan tahun baru dengan energi yang bersumber dari kedamaian internal, bukan dari tekanan eksternal.
Kisah Aisha adalah pengingat bagi generasi muda yang terperangkap dalam budaya hustle: momen memanfaatkan liburan akhir tahun adalah hak Anda untuk beristirahat tanpa syarat. Gunakan jeda ini untuk mengeksplorasi siapa Anda di luar gelar pekerjaan dan pencapaian akademik. Dengan begitu, Anda akan kembali ke pekerjaan, atau studi, bukan karena terpaksa, tetapi karena gairah yang telah ditemukan kembali.
Ikuti terus cerita seputar dua kota suci Makkah dan Madinah di Cerita Haramain
