Suara azan Subuh menggema dari menara Masjidil Haram. Di antara ribuan jamaah yang berjalan kaki menyusuri lorong Ajyad, sepasang suami istri asal Yogyakarta tampak berpegangan tangan erat. Bu Laila dan Pak Hasyim — dua sosok sederhana yang akhirnya menunaikan impian panjang mereka: umroh mandiri.
Udara dini hari Makkah masih terasa sejuk. Lampu-lampu di sekitar Ka’bah memantulkan cahaya lembut ke arah jamaah yang thawaf. Bu Laila menatap Ka’bah dengan mata berkaca-kaca. “Ya Allah… akhirnya Engkau panggil juga kami ke rumah-Mu,” bisiknya lirih.
Tidak ada rombongan besar, tidak ada panitia yang mengatur langkah. Hanya mereka berdua — dengan panduan digital di ponsel dan doa yang tak pernah putus dari hati.
Sebelum Keberangkatan: Antara Ragu dan Tekad
Enam bulan sebelum hari itu, di sebuah rumah kecil di pinggiran Sleman, Bu Laila hampir saja menyerah. “Saya takut, Mas. Kalau nanti tersesat bagaimana? Kalau visanya ditolak?” katanya waktu itu pada suaminya.
Namun, semuanya berubah setelah ia membaca berita tentang Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2025 — peraturan baru yang kini melegalkan umroh mandiri bagi jamaah Indonesia.
Hukum yang lahir pada tahun itu memberi angin segar bagi umat Islam. Kini, setiap Muslim yang memenuhi syarat administrasi — mulai dari tiket, akomodasi, hingga visa umroh mandiri — diperbolehkan berangkat tanpa harus bergabung dalam rombongan travel.
“Waktu tahu sudah resmi dan dilindungi hukum, saya langsung yakin. Kalau ini jalannya Allah سبحانه وتعالى, pasti dimudahkan,” ujar Pak Hasyim.
Langkah Awal: Dari Tabungan Receh hingga Tiket ke Tanah Suci
Tabung bambu yang dulu hanya berisi koin perlahan terisi penuh. Setiap kali Bu Laila menerima honor mengajar, ia sisihkan sebagian. Tak banyak, tapi konsisten.
Mereka memulai proses dengan menghubungi agen resmi jual visa umroh mandiri. Petugas menjelaskan secara rinci: bagaimana cara pengajuan visa, verifikasi data, dan koordinasi dengan sistem Kementerian Agama. Semua berlangsung transparan dan terpantau secara digital.
Tak lama kemudian, visa mereka disetujui. Tiket pesawat pun dibeli. Hotel sederhana di kawasan Misfalah mereka pesan lewat aplikasi. Dan hari itu pun tiba — hari ketika doa panjang akhirnya berubah menjadi langkah nyata menuju Baitullah.
Perjalanan yang Mengubah Segalanya
Sesampainya di Makkah, Bu Laila tak kuasa menahan air mata. Langit malam itu cerah, angin gurun berhembus lembut, dan suara talbiyah bergema dari segala arah.
“Labbaikallahumma labbaik…,” ucapnya lirih. Ia merasakan sesuatu yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Tanpa bantuan muthawif atau rombongan, mereka berdua melakukan thawaf perlahan-lahan. Di setiap putaran, Bu Laila berdoa dengan penuh haru — untuk anak-anaknya, untuk kedua orang tuanya yang telah tiada, dan untuk setiap orang yang pernah membantu perjalanan ini.
“Rasanya seperti benar-benar bicara langsung kepada Allah سبحانه وتعالى,” katanya kemudian.
Mereka melanjutkan sa’i di antara Bukit Safa dan Marwah dengan langkah pelan tapi pasti. Meski kaki terasa berat, hati mereka ringan. “Setiap langkah, kami yakin, Allah سبحانه وتعالى melihat dan menilai niat kami,” ujar Pak Hasyim sambil tersenyum.
Makna Kemandirian: Iman yang Diuji, Doa yang Dijawab
Tidak semua berjalan mulus. Pernah suatu malam, mereka tersesat saat mencari pintu hotel di kawasan Ajyad. Tak ada sinyal internet, dan tulisan arah hanya dalam bahasa Arab.
Bu Laila mulai panik. Tapi di tengah kebingungan, seorang perempuan tua asal Indonesia menghampiri mereka. “Bapak, Ibu dari Sleman ya? Saya juga jamaah mandiri. Mari saya antar,” katanya ramah.
Malam itu mereka saling berbagi cerita. Ternyata, wanita itu juga berangkat mandiri bersama suaminya. Mereka saling memberi semangat dan doa. “Lihat, Allah سبحانه وتعالى tidak pernah membiarkan kita sendirian,” ujar Bu Laila, terharu.
Dari pengalaman itu, mereka belajar satu hal penting: mandiri bukan berarti sendiri. Allah سبحانه وتعالى selalu menghadirkan pertolongan melalui cara yang tak disangka.
Panduan untuk Jamaah yang Ingin Umroh Mandiri
Kisah Bu Laila menjadi inspirasi bagi banyak jamaah lain yang ingin menapaki jalan yang sama. Bagi kamu yang ingin melaksanakan umroh mandiri, berikut beberapa hal penting yang perlu disiapkan:
- Pelajari Aturan Hukum Terbaru
Baca dan pahami isi UU Nomor 14 Tahun 2025, terutama pasal tentang pelaksanaan umroh mandiri. - Gunakan Layanan Resmi
Pilih penyedia visa umroh mandiri yang memiliki izin dan akses langsung ke sistem visa Arab Saudi. - Siapkan Jadwal yang Fleksibel dan Realistis
Jangan terburu-buru. Nikmati setiap momen ibadah, dan beri waktu istirahat cukup. - Manfaatkan Teknologi
Aplikasi navigasi, jadwal shalat, dan panduan umroh digital akan sangat membantu di lapangan. - Bergabung dengan Komunitas Jamaah Mandiri
Komunitas bisa menjadi tempat berbagi pengalaman, dukungan, bahkan teman seperjalanan.
Pulang dengan Hati yang Baru
Setelah dua minggu di Tanah Suci, Bu Laila dan Pak Hasyim pulang ke tanah air dengan hati yang jauh lebih lapang. “Umroh mandiri ini bukan hanya perjalanan ibadah,” kata Bu Laila. “Ini perjalanan hidup. Kita belajar mengandalkan Allah سبحانه وتعالى sepenuhnya.”
Kini, mereka aktif berbagi pengalaman di forum daring jamaah umroh mandiri. Banyak yang terinspirasi, terutama kaum muda yang ingin menunaikan ibadah dengan cara lebih fleksibel dan efisien.
“Dulu saya kira umroh mandiri hanya untuk yang paham teknologi. Ternyata, yang paling penting itu niat dan keberanian,” ujarnya sambil tersenyum.
Penutup: Mandiri Adalah Bentuk Tertinggi dari Tawakal
Tren umroh mandiri 2025 bukan sekadar tentang kebebasan memilih jalur sendiri, tapi tentang kedewasaan spiritual — belajar berjalan tanpa bergantung pada manusia, dan bersandar sepenuhnya kepada Allah سبحانه وتعالى.
Dengan dukungan UU Nomor 14 Tahun 2025, jamaah Indonesia kini punya kesempatan menapaki ibadah suci dengan cara yang lebih pribadi, aman, dan penuh keberkahan.
Dan seperti yang dikatakan Bu Laila saat menatap Ka’bah untuk terakhir kalinya sebelum pulang:
“Mandiri bukan berarti sendiri. Karena setiap langkah, setiap air mata, dan setiap doa — selalu ada Allah سبحانه وتعالى yang menemani.”
